Minggu, 29 November 2015

Kawalu Baduy Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan

Baduy merupakan salah satu suku yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, karena suku Baduy sangat terkenal dengan kearifan lokalnya, keasrian wilayahnya, keramahan penduduknya, dan ketaatannya pada budaya leluhur. Masyarakat Baduy yang berada di wilayah Kabupaten Lebak ini terbagi menjadi dua bagian wilayah yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perbedaan kedua wilayah ini terlihat dari sikap para penduduknya itu sendiri. Terlihat dari sikap masyarakat Baduy Luar yang sudah mulai bisa menerima budaya dari luar, misalnya dilihat dari pakaian yang memiliki ciri khas berwarna hitam berkancing serta ikat kepala berwarna hitam juga namun memiliki corak khas Baduy, perempuan-perempuan Baduynya pun banyak yang memakai perhiasan emas, masyarakat yang sudah mau menaiki kendaraan, dan banyak dari mereka juga yang sudah memiliki handphone bahkan ikat kepala yang mereka kenakan sudah menjadi ciri khas Baduy yang dijual luas di masyarakat dengan berbagai variasi model mulai dari slayer (ikat kepala) hingga baju. Untuk Baduy Dalam sendiri, mereka sama sekali tidak mau menerima budaya dari luar. Pakaian yang mereka kenakan berwarna serba putih mulai dari celana, baju yang polos tanpa tambahan-tabahan lain hingga ikat kepala. Walaupun adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi, tetapi tetap saja masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam ini masih memegang teguh kebudayaannya demi keberlangsungan hidup generasi penerusnya.
Sebenarnya masyarakat Baduy sendiri tidak menyebut dirinya sebagai masyarakat “Baduy”.  Mereka lebih senang disebut sebagai orang Kanekes, Cibeo, Cikartawana dan sebagainya sebagaimana nama kampung tempat mereka bermukim. Sebutan “Baduy” disebutkan oleh orang luar. Kata Baduy sendiri dimungkinkan dari nama sungai yang melintasi perkampungan mereka “Cibaduy”. Menurut cerita yang beredara di masyarakat, Baduy ini merupakan masyarakat yang berpindah-pindah. Ada yang menyebutkan bahwa masyarakat Baduy ini dulunya merupakan masyarakat dari kerajaan Pajajaran yang mengasingkan diri dari penyebaran agama islam yang pada waktu itu menyebar ke kerajaan Pajajaran. Mereka lebih memilih pindah dan mengasingkan diri ke wilayah pegunungan di daerah Kabupaten Lebak. Mereka enggan untuk berpindah kepercayaan karena mereka sangat memegang teguh pada budaya leluhur dan kepercayaan yang mereka anut itu disebut “Sunda Wiwitan”.
Rumah tinggal mereka berbentuk panggung terbuat dari bambu, kayu dengan atap dari ijuk yang bahannya didapat dari alam sekitarnya. Bahan, bentuk dan  tata ruang rumah mereka relativ sama, dengan satu pintu dan tanpa jendela. Arah hadapnya mengarah ke Utara-Selatan, sebagai bentuk penghormatan terhadap Arca Domas (tempat yang paling disakralkan).
Mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam padi di huma atau ladang. Dengan memiliki tahapan dan waktu tanam yang seksama, sesuai perhitungan yang seksama dari para  olot. Prosesi penanaman hingga panen padi, memiliki kekhasan  kukuh pada aturan tradisi, seperti : Nyacar bulan Sapar, Ngaduruk bulan Kapitu, Ngaseuk bulan kasalapan. Ada juga Ngadiukkeun Indung dan lain-lain.
Masyarakat Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional;  mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat ;  mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Artinya; secara nasional masyarakat Baduy dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
"Pu'un" berada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan “Pu'un” tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.
Masyarakat Baduy memiliki banyak sekali upacara adat namun yang paling terkenal adalah Seba. Selain Seba ada pula upacara atau ritual yang sangat menarik karena upacara atau ritual ini dapat membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kawalu merupakan prosesi tutup tahun yang berlangsung selama 3 bulan yang waktunya sesuai menurut perhitungan masyarakat Baduy atau dalam kalender nasional sekitar bulan April hingga Juni. Ketika prosesi Kawalu ini berlangsung, masyarakat Baduy melakukan puasa selama 3 bulan lamanya. Selain itu mereka juga membersihkan lingkungan Baduy dari barang-barang yang bersifat modern, misalnya dari barang-barang yang terbuat dari bahan plastik, kertasa atau barang-barang modern lainnya yang biasanya dibawa oleh para pengunjung ketika mereka  berada di Baduy. Maka dari itu selama Kawalu berlangsung daerah Baduy tertutup bagi siapapun baik itu wisatawan atau bahkan bagi para pejabat negara. Kawalu juga dijadikan sebagai ajang untuk merenungkan diri dan menenangkan diri dari rutinitas sehari-hari. Setelah prosesi ritual Kawalu ada ritual Ngalaksa sebagai wujud kegembiraan setelah berpuasa.Kemudian dilanjutkan dengan Serentaun yang merupakan sidang evaluasi hasil pertanian, ditandai dengan mamasukan padi ke dalam lumbung / leuit, diakhiri dengan hiburan yang dilakukan di setiap kampungnya. Dan sebagai penutup dilakukan Seba sebagai wujud dari kesetiaan dan ketaatan warga Baduy kepada pemerintahan Republik Indonesiayang ditandai dengan memberikan hasi panen kepada Bupati Lebak serta Gubernur Banten.
Dari prosesi ritual Kawalu ini, kita dapat mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana melestarikan lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus bisa mengurangi penggunaan plastik, misalnya ketika kita berbelanja di pasar sebaiknya kita membawa tas belanjaan sendiri yang terbuat dari bahan non plastik yang tentunya bisa dipakai berulang-ulang. Walaupun sepertinya kehidupan kita ini tidak bisa lepas dari barang-barang yang berasal dari plastik tetapi dengan adanya Kawalu ini setidaknya kita bisa termotivasi untuk mengurangi pemakaian plastik. Tidak hanya itu, dari masyarakat Baduy juga kita bisa belajar tentang kejujuran yaitu dari pepatah Baduy lojor teu meunang diteukteuk, pendek teu meunang disambung (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung), maksud dari pepatah ini adalah kita hidup harus dengan kejujuran, tidak boleh dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar